18 September 2019 11:15 am

Mengapa Dunia Penuh Kesulitan?



Banyak orang ketika tertimpa musibah, bencana, malapetaka, atau bahkan krisis, maka ia menduga bahwa Tuhan sudah marah kepadanya. Padahal sebetulnya itu adalah sifat dunia yang Allah SWT ciptakan. Allah menciptakan sesuatu dan menetapkan ketentuannya.

Allah SWT menciptakan api, menjadikannya membakar sesuatu, dan manusia membutuhkan panasnya. Apabila kita menaruh daging di atasnya maka akan jadi daging bakar. Allah menjadikan api memiliki energi dan panas. Allah menciptakan matahari yang bercahaya dan cahayanya menyebabkan siang. Allah menciptakan laut dan mengisinya dengan air. Air mengakibatkan basah. Bila seseorang menceburkan dirinya ke laut, pasti ia basah dan ia tidak akan bertanya-tanya ketika basah, “Mengapa Allah menakdirkanku basah. Apakah Allah marah kepadaku? Apa aku telah melakukan sesuatu? Pertanyaan seperti ini muncul ketika, pertama, mengeluh, kedua, bingung dan ragu-ragu, ketiga, kurangnya kepercayaan pada diri sendiri dan pada Allah.

Untuk menghilangkan perasaan tersebut, seseorang harus meyakini bahwa asal mula dunia adalah kesuraman. Maka dari itu, jangan kaget dengan dunia selama ia masih ada di dunia karena memang itulah karakteristik dunia. Kesuraman dan ketidakbahagiaan adalah bagian yang tak terpisahkan dari dunia. Dunia (الدنيا) seperti itu karena ia (hina دنيئة), dekat (dunuwدنو), dan sengsara (danaah دناءة)--semua derivasi kata د ن ي. Dunia telah menampakkan berbagai masalah, bencana, kekhawatiran, krisis, dan penyakit karena memang itu sifat dunia. Apa tidak bisa menggambarkan dunia dengan ciri buruk tersebut, padahal memang seperti itulah dunia. Karena itu, jangan pernah terkejut ketika dunia menampilkan berbagai kesuraman tersebut. Nah, kenyataan ini akan membuat Anda berlaku seimbang kala berurusan dengan dunia. Ketika musibah datang, Anda memahami kenyataan bahwa seperti itulah dunia.

Dengan fakta tersebut, apa yang dapat bermanfaat untuk Anda? Jawabnya, dengan memohon bantuan sabar. Kesabaran itu pahit dan kesabaran itu sulit. Di dalam kesabaran ada perawatan jiwa dan penahanan diri. Bagaimana cara meminta bantuan sabar? Sabar memastikan bahwa Anda siap dan memahami bahwa ini normal. Sebaliknya, jika Anda merasa sesuatu hal menimpa hanya pada Anda, persoalan suatu yang khas, dan bertanya-tanya bagaimana itu bisa terjadi, maka Anda akan larut dalam kebingungan dan lebih dari itu, Anda akan dilanda kecemasan.

Karena itu, dalam sebuah fragmen ketika Rasulullah saw melihat seorang wanita yang ditinggal mati anaknya menangis dan menampar dirinya, beliau berkata, “Bersabarlah!” wanita itu menjawab, “Jangan pedulikan aku.” Ia tidak tahu bahwa yang berbicara dengannya adalah Rasulullah karena sangat berduka dan tenggelam dalam kesedihan dan kecemasan. Ketika orang-orang memberi tahu bahwa yang berbicara dengannya adalah Rasulullah, si wanita berlari mengampiri di belakang Nabi dan memanggil, “Ya Rasulullah,..” dengan maksud mengklarifikasi bahwa ia tidak menyadarinya. Rasulullah berkata, “Sungguh, sabar itu pada tamparan pertama.” Bagaimana bisa kesabaran datang pada tamparan pertama. Jawabannya, karena pengetahuan, pendidikan, dan pemahaman lah yang akan mendatangkan sikap kebijaksanaan bahwa لاَ تَسْتَغْرِبْ وُقُوعَ الأَكْدَارِ مَا دُمْتَ في هَذِهِ الدَّار “Jangan merasa aneh dengan kesulitan-kesulitan yang ada, selama kamu berada di dunia.” Ungkapan ini indah dan hendaknya dihafal.

Ketika datang sebuah bencana dan kemalangan dan ia menyiapkan nilai tersebut, itu akan membantunya untuk bersabar dan tidak kecewa. Apa yang terjadi setelah sabar? Apa hasil dari sabar? Yaitu sikap menerima dan ridha dengan ketetapan Allah. Rasulullah saw pernah bersabda, “Sungguh, mata akan menangis, hati akan bersedih, dan kami, hai Ibrahim (anak Nabi), bersedih karena berpisah denganmu. Tapi, kami tidak mengucapkan sesuatu yang membuat Allah murka.”
Hal ini terjadi karena pendidikan dan pemahaman sebelumnya telah mantab dalam jiwa insani. Apabila hikmah ini telah tertanam dalam diri maka akan banyak membantu membentuk jiwa yang berkarakter profetik (berakhlak nabi). Wallahu a'lam.

Muhammad Zacky Mubarok | Pegiat penerjemahan bahasa Arab. Penulis dan penyunting Ensiklopedia Al-Qur`an, hadis, sirah Nabi, dan kajian Islam yang bisa dilihat di sini.
Blog Post Lainnya
Mengapa Kembali Berwudhu setiap kali Shalat?. . Wudhu adalah awal setiap perkara karena wudhu adalah simbol kesucian, baik lahir maupun batin. Ketika Imam asy-Syafi'i meninggal dunia, Sayyidah Nafisah sangat memujinya dan berkata, “Semoga
Jangan Turuti Nafsumu!. Kecerdasan dan kebodohan tidak dinilai dari banyaknya ilmu pengetahuan, tetapi yang mengantarkanmu kepada Allah SWT. Sumber kemaksiatan adalah memuaskan nafsu, sedangkan sumber ketaatan adalah
Di manakah Tingkatan Ikhlasmu?. Ibnu Athaillah as-Sakandari berkata dalam kalam hikmah yang kesepuluh, الأَعْمَالُ: صُوَرٌ قَائِمَةٌ، وَأَرْوَاحُهَا: وُجُودُ سِـرِّ الإِخْلاَصِ فِيهَا "Amal itu ibarat gambar yang berdiri,
Social Media
Alamat
085817743867
085817743867
lenterailmumakrifat@gmail.com
Metode Pengiriman
Berita Newsletter
`Berlangganan
dibuat denganberdu
@2020 Lentera Ilmu Makrifat Inc.