13 Oktober 2019 8:57 am

Di manakah Tingkatan Ikhlasmu?


Ibnu Athaillah as-Sakandari berkata dalam kalam hikmah yang kesepuluh, الأَعْمَالُ: صُوَرٌ قَائِمَةٌ، وَأَرْوَاحُهَا: وُجُودُ سِـرِّ الإِخْلاَصِ فِيهَا "Amal itu ibarat gambar yang berdiri, sedangkan rohnya adalah rahasia ikhlas yang ada di dalamnya." Ucapannya ini diambil dari sabda Rasulullah, yaitu hadis pertama yang ditulis oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Shahihnya, إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى "Sungguh, setiap amal tergantung pada niatnya, dan tiap-tiap orang hanya mendapat balasan dari niatnya."
Hadis ini dikomentari oleh Imam as-Suyuthi. Menurutnya, ini hadis yang agung yang masuk dalam pembahasan tujuh puluh bab syariat. Niat dan ikhlas untuk Allah SWT semata adalah tujuan utama. Niat dan ikhlas masuk dalam pembahasan thaharah, shalat, zakat, puasa, haji, kafarat, dan nazar. Niat juga masuk dalam pembahasan talak, persaksian, iman, dan dalam banyak bab fikih lainnya. Imam as-Suyuti telah menghitung ada tujuh puluh bab syariat membutuhkan niat. Niat letaknya di hati. Niat adalah salah satu amalan hati. Karena itu, ketika Anda melakukan shalat zuhur, Anda pun berniat, dan itu ada dalam hati Anda. Ketika Anda shalat maghrib, niatnya ada dalam hati Anda. Niat tempatnya dalam hati. Niat harus dimaksudkan untuk tujuan yang baik. Niat itu baik ketika hanya ditujukan kepada Allah. Ikhlas adalah rahasia perbuatan. Perbuatan tanpa keikhlasan adalah “tanda tanya” yang kebanyakan tidak akan diterima Allah SWT.
Perbuatan yang ikhlas memiliki banyak ganjaran. Imam Fudhail bin Iyyad berkata, لا يَقبل الله العمل إلَّا بالإخلاص والصواب. "Allah hanya akan menerima perbuatan yang didasari keikhlasan dan kebenaran." Para ulama berbicara tentang dua pilar ini: keikhlasan dan kebenaran. Kapan suatu perkara dinilai ada keikhlasan di dalamnya? Yaitu ketika dilakukan hanya untuk Allah. Para ulama berbicara tentang ikhlas dan membaginya menjadi tiga jenis atau tiga tingkatan.
Pertama, ikhlasnya orang awam, yaitu ketika perbuatannya terbebas dari riya. Riya, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah, adalah syirik yang tersembunyi. Karena itu, sudah semestinya ketika shalat, tidak Anda lakukan untuk manusia. Anda tidak sengaja perlihatkan agar orang tahu bahwa Anda mengerjakan shalat. Ketika berjihad di jalan Allah, tidak Anda lakukan untuk disebut sebagai pemberani. Ketika belajar, tidak Anda lakukan untuk memperoleh ketenaran, pujian, dan kebanggaan, atau bahkan tidak untuk disebut ulama dan orang berilmu. Jangan lakukan ini untuk alasan ini, tetapi lakukanlah demi mencari ridha Allah SWT. Allah memerintahkan Anda untuk beribadah, menyuruh Anda belajar, dan melakukan segala kebaikan yang harus dikerjakan. Semua itu harus dilakukan dengan ikhlash, hanya untuk Allah SWT, murni tanpa ada campuran, tanpa riya yang tersembunyi ataupun yang tampak. Inilah ikhlasnya orang awam.
Jenis ikhlas kedua adalah ikhlasnya para muhibbin (orang-orang yang mencintai Allah), yaitu ketika seorang hamba melakukan perbuatan untuk mengagungkan Allah. Ia seolah tetap akan melakukan suatu amal, meskipun seandainya Allah belum memerintahkannya. Ketika Allah memberikan pilihan, dalam shalat fardu misalnya, bahwa shalat tidak wajib, ia akan tetap mengerjakannya. Mengapa? Karena ia mencintai Allah. Motivasi para muhibbin dalam beramal adalah karena cinta kepada Allah. Allah berhak disembah dan pantas untuk mereka curahkan jiwa di jalan-Nya. Ikhlas orang awam adalah ketika bebas dari riya, sedangkan ikhlas muhibbin berbeda, yaitu mengagungkan Allah, mencintai Allah, dan meluhurkan Allah di dalam hati.
Ikhlas ketiga adalah ikhlasnya para muqarrabin (orang-orang yang dekat dengan Allah). Ikhlas ini lahir dari sikap yang disebut dengan asy-syuhud (menyaksikan dengan pandangan batin). Para muqarrabin mengalami kondisi seakan-akan ia terpisah dari alam semesta. Hamba muqarrabin melihat, mengeluarkan jiwanya, dan menyaksikan apa yang terjadi di alam semesta. Ia melihat “tindakan Allah” yang memberi ini, mencegah ini, memiskinkan ini, dan memberi penyakit ini. Ia menyaksikan Allah menjadikan ini seorang ilmuwan, menjadikan ini orang bodoh, menjadikan ini orang toleran, menjadikan ini sosok pendendam. Ia melihat “perintah Tuhan” di alam semesta. Muhibbin seolah-olah melihat itu semua, menyaksikan tindakan Allah pada manusia, dan menerima putusan Allah dengan pasrah. Karenanya, ia tidak akan mencampuri dan terpengaruhi. Ia selalu mengatakan, "Tidak ada daya dan upaya selain dari Allah. Kami beriman pada Allah." Ia menjadikan jiwanya sebagai satu individu yang tidak meminta atau menolak. Inilah kondisi para muqarrabin yang Ikhlasnya berdasarkan asy-syuhud (menyaksikan dengan batin). Intinya, kondisi ikhlas orang awam bebas dari riya dan kemunafikan, ikhlas muhibbin mengagungkan Allah, memuliakan, dan mencintai-Nya, sedangkan ikhlas muqarrabin adalah menyaksikan dengan mata batin. Menyaksikan ini tujuan akhirnya.
Seandainya Allah membuka hati Anda dan memahamkannya maka seolah-olah Anda sedang menonton sebuah drama atau film. Namun, kali ini yang Anda tonton adalah ciptaan Allah; Allah yang menciptakan ini, Allah yang membuat ini. Karena kita beriman kepada Allah dan menerima qadha dan qadar-Nya, dan keputusan-Nya, maka kita menerima itu semua dengan pasrah dan ridha. Saat itu, Anda tidak mendapati diri Anda mampu marah, memprotes, atau bosan. Anda selalu mendapati diri Anda “sangat mudah” dan bertawakkal, rendah hati, dan khusyuk pada Allah. Ada kesenangan ketika menonton sebuah drama atau film,--dan bagi Allah, ada perumpamaan yang lebih baik. Tetapi, kali ini yang Anda tonton adalah hikmah dan ciptaan-Nya, bukan film industri dan drama kreatif buatan manusia. Yang Anda tonton adalah karya cipta Tuhan Yang Maha Tinggi. Lihatlah kreasi dan ciptaan Allah. Kala itu, Anda ridha dan menerima bahwa amal adalah gambar yang berdiri. Yang kita sebut gambar ini kita beri nama qalab القَالَب , bukan qalib القَالَب . Qalib artinya orang yang mengubah benda, sedangkan qalab adalah gambar, seolah-olah patung atau pot canvas. Amal adalah gambar fisik yang berdiri yang bisa dimasukkan roh. Roh ini adalah sirr ikhlas.
Maka dari itu, lihatlah dirimu! Apakah Anda orang awam? Yang selalu ingin agar amal Anda bebas dari riya yang tersembunyi dan tampak? Bila iya, Anda masuk dalam kelompok ini. Apakah Anda muhibbin yang termotivasi untuk mengagungkan Allah lebih banyak dan lebih banyak lagi ketika beramal? Jika seperti itu, Anda masuk dalam kelompok ini. Atau apakah Anda muqarrabin yang mampu memisahkan jiwa dan musyahadah (menyaksikan) sampai mencapai tawakkal (pasrah), taslim (pasrah seperti bayi), dan ridha. Bila seperti itu, ikhlas Anda masuk dalam golongan ini, karena sungguh, ikhlas adalah rohnya amal. Wallahu A'lam.

Muhammad Zacky Mubarok | Pegiat penerjemahan bahasa Arab. Penulis dan penyunting puluhan Ensiklopedia Al-Qur`an, hadis, sirah Nabi, dan kajian Islam yang bisa dilihat di sini.
Blog Post Lainnya
Jangan Turuti Nafsumu!. Kecerdasan dan kebodohan tidak dinilai dari banyaknya ilmu pengetahuan, tetapi yang mengantarkanmu kepada Allah SWT. Sumber kemaksiatan adalah memuaskan nafsu, sedangkan sumber ketaatan adalah
Mengapa Dunia Penuh Kesulitan?. Banyak orang ketika tertimpa musibah, bencana, malapetaka, atau bahkan krisis, maka ia menduga bahwa Tuhan sudah marah kepadanya. Padahal sebetulnya itu adalah sifat dunia yang Allah SWT ciptakan.
Mengapa Kembali Berwudhu setiap kali Shalat?. . Wudhu adalah awal setiap perkara karena wudhu adalah simbol kesucian, baik lahir maupun batin. Ketika Imam asy-Syafi'i meninggal dunia, Sayyidah Nafisah sangat memujinya dan berkata, “Semoga
Social Media
Alamat
085817743867
085817743867
lenterailmumakrifat@gmail.com
Metode Pengiriman
Berita Newsletter
`Berlangganan
dibuat denganberdu
@2020 Lentera Ilmu Makrifat Inc.